Bisakah seorang menjadi baik tanpa TUHAN?
Ateis dan Kristen sering debat pertanyaan seperti itu. Orang kristen sangat yakin bahwa manusia tidak bisa berbuat baik tanpa TUHAN. Ateis percaya bahwa manusia tidak lebih dari sebuah kebetulan kosmik, mereka menyadari bahwa pada akhirnya moralitas hanyalah sesuatu yang dimasukkan bersama-sama dalam pikiran manusia, produk evolusi yang lebih nyata tidak memiliki otoritas atas tingkah laku kita. Seseorang berpikir bahwa kita tidak boleh menyakiti tetangga kita; yang kanibal, berpikir bahwa tidak apa-apa untuk makan dia. Artinya standar baik atau tidak ditentukan oleh manusia. Pikirang manusia yg menentukan standar sebuah kebaikan.
Frederich Nietzsche, yang terkenal ateis yang berkata, ”Tuhan sudah mati”, melihat bahwa di sinilah logika dipimpin. Pikiran manusia lebih tinggi dari TUHAN.
Theolog Inggris Richard Dawkins mengatakan:
“Ateis dan humanis cenderung mendefinisikan perbuatan baik dan buruk dalam hal kesejahteraan dan penderitaan orang lain, pembunuhan, penyiksaan, dan kekejaman yang buruk karena menyebabkan orang menderita.”
In enim justo, rhoncus ut, imperdiet a, venenatis vitae, justo. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Integer tincidunt. Cras dapibus. Vivamus elementum semper nisi. Aenean vulputate eleifend tellus. Aenean leo ligula, porttitor eu, consequat vitae, eleifend ac, enim. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum.
Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante.
Jawaban Alkitab:
- Otak dan pikiran manusia tidak bisa manjadi standar untuk menjadi baik. Alasannya: otak sangat terbatas, TUHAN yg menciptakan otak, Sejak kejatuhan manusia otak dan pikiran manusia ikut menurun kualitasnya (Baca Roma 3: 9-12). Tanpa Allah moralitas tidak lebih dari bahan kimia mendesis di dalam kepala kita. oleh David Anderson, Trinity Baptist Church, Nairobi, Kenya.
- Perbuatan baik tidak bisa membuat manusia menjadi baik. Alasannya orang bisa berbuat baik secara lahiriah tapi di dalam hatinya ia bisa berbuat dosa dan tidak ada yg tahu hanya TUHAN. (Baca Lukas 18 :9-14)
Lukas 18:18-27. Dikisahkan ada seorang Kaya bertanya kepada Yesus dengan keyakinannya bahwa dia adalah orang yang baik karena sudah menuruti semua hukum-hukum Taurat dan perintah agama, demikian : “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”. Kemudian jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun Yang baik selain daripada Allah saja”
Jawaban Yesus ini merupakan jawaban yang sulit untuk dicerna, seolah-olah Yesus menolak diriNya disebut baik. Siapapun akan tahu lawan kata baik Adalah buruk/jahat. Apakah benar demikian?
Mari kita coba pahami apa maksud pertanyaan orang kaya tadi kepada Yesus. Bahwa Ketika dia melihat Yesus, dia tidak mengerti bahwa Yesus adalah Allah, tapi dia hanya melihat Yesus sebagai“guru”, dan oleh sebab itu, dia mengira Yesus adalah juga seorang yang baik (Baca ayat 18) seperti pemahamannya terhadap dirinya sendiri yang sudah berusaha menjadi orang baik.
Kemudian kita perhatikan jawaban Yesus yang juga merupakan pertanyaan balik di ayat 19 ; “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja”. Pertanyaan ini dilontarkan kepada orang itu sebab Yesus tahu bahwa orang ini tidak melihat-Nya sebagai Allah. Orang kaya itu tahu betul bahwa Yesus itu baik, tapi dia menyebut Yesus baik untuk alasan yang keliru. Orang kaya itu mengira Yesus itu juga baik sebagaimana dia baik karena Menuruti hukum-hukum Allah.
Disini Yesus Kristus mengajarkan bahwa percaya pada kehidupan yang baik; atau melakukan perbuatan yang baik tidak akan memberikan kehidupan kekal. Dalam Yesaya 64:6 tertulis “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin”. Sebab apabila untuk mendapat keselamatan didasarkan dengan perbuatan baik, untuk apa Tuhan Yesus datang?. Sejauh mana kebaikan manusia bisa meraih kehidupan kekal itu, jika kutuk dosa masih mencengkeram manusia.Sebab manusia akan tetap berada dibawah murka Allah (akibat dosa manusia pertama). Hal ini memang tidak semuanya diterangkan dalam satu perikop tersebut, tetapi kita tahu dari bagian-bagian lain dari Alkitab banyak menjelaskan; walaupun kita berusaha menjalani kehidupan sesempurna mungkin, namun satu dosa saja sudah cukup untuk membawa manusia ke dalam neraka selamanya. Jadi manusia itu benar-benar membutuhkan seorang Penebus. Yesus Kristus datang untuk menebus dosa-dosa manusia. Dia datang untuk menyelamatkan manusia dari kutuk dosa.
| Print article | This entry was posted by YPAI on 1 September 2010 at 4:17 pm, and is filed under Recommended Article. Follow any responses to this post through RSS 2.0. You can leave a response or trackback from your own site. |
