Apologetika (Iman & Ratio)
PENDAHULUAN
Apologetika sering kali dianggap hanya untuk kaum intelektual saja dan juga sering diasumsikan hanya bagi kaum yang sangat terpelajar saja. Dalam kekristenan bahkan seringkali kurang dianggap penting dibandingkan dengan kasih, moralitas dan kekudusan hidup. Mereka yang mengatakan demikian bukan salah tetapi sebetulnya mereka tidak sadar mereka ini sedang ber”apologetika” . Di dalam apologetika akan banyak bermain dengan pertimbangan akal, cara berpikir, sehingga terdapat kesan dalam berapologetika seolah-olah segala sesuatu harus berdasarkan pertimbangan akal sehat, apakah memang apologetika Kristen semata-mata demikian?
KENAPA APOLOGETIKA
Dalam bahasa aslinya (apologia) secara hurufiah berarti mempertahankan atau memberi penjelasan terhadap suatu pendapat. Di dalam kekristenan berapologetika adalah suatu keharusan, karena merupakan salah satu perintah Allah yang dinyatakan dalam 1 Petrus 3: 15, 16 : “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.”
Di dalam ayat diatas tercakup beberapa hal, yaitu:
- Kuduskan Kristus didalam hati sebagai Tuhan
- Siap sedia pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab tentang pengharapan yang ada pada kita (orang Kristen)
- Harus dengan lemah lembut, hormat dan dengan hati nurani yang murni
- Kesalehan hidup
Ke 4 hal tersebut merupakan suatu kesatuan yang tak boleh berdiri sendiri, sehingga jika sesorang mengatakan dirinya Kristen, maka ia harus menjadikan Kristus sebagai Tuhan dan menjaga kekudusan hidup, yang artinya = mengasihi Allah dan mengasihi Allah = menuruti kehendak Allah dan mengenalNYA, yang pada akhirnya ia akan mampu memberikan jawaban atas pengharapan yang ada padanya sebagai orang Kristen.
Pentingnya berapologetika secara benar karena kita berada dalam persimpangan jalan dan krisis (iman) yang terus menerus terjadi, yaitu:
- Peradaban modern yang mengarah kepada kematian rohani. Hal itu dapat terjadi karena roh kekristenan hampir padam, yang disebabkan bukan karena adanya budaya yang beraneka ragam atau dasar iman yang lain, tetapi karena iman dan jiwa kekristenan hampir punah. Abad terakhir lebih diwarnai oleh pemusnahan masal (genocide), kebingungan seksualitas dan materialistis yang mengarah menjadi penyembahan ilah-ilah duniawi.
- Bukan hanya hal diatas saja, tetapi secara filosofi dan intelektual, dunia juga mengalami krisis. Krisis yang dihdapai adalah “krisis tentang kebenaran” (Ralph Martin, pimpinan dari Renewal Ministries). Kebenaran yang obyektif saat ini mendapatkan serangan yang bertubi-tubi baik secara langsung maupun tidak langsung, melalui media, pendidikan dan aspek lain dari kehidupan manusia, sehingga pola pikir manusia semakin terbentuk untuk tidak lagi mempercayai adanya kebenaran yang absolut.
- Dan krisis yang terdalam bukan hanya pada peradaban dan intelektual saja, tapi sudah sampai kepada krisis rohani, banyak orang menggunakan hal-hal rohani dengan tujuan mementingkan dkepuasan diri pribadi
IMAN & PIKIRAN
Peranan iman dan pikiran (logika/pengertian/ratio), mempunyai posisi yang sangat vital dalam apologetika Kristen, tetapi sering kali kita bertanya, mana diantara keduanya yang terlebih penting/didahulukan, apakah iman percaya atau kemampuan berpikir sebagai manusia (ratio), dibawah ini beberapa pendapat tentang hubungan antara iman & pengertian (ratio):
- Iman dan Ratio, merupakan 2 hal yang tidak dapat disatukan (terpisah),
- Iman merupakan bagian dari ratio, sehingga segala sesuatu harus bisa dijelaskan dengan dalam penjelasan logika manusia
- Ratio merupakan bagian dari iman,
Jika salah satu dari ke 3 hal ini diterima oleh manusia (gereja) ada beberapa konsekwensi:- Kepercayaan tidak bisa disatukan dengan hal-hal yang bersifat ilmu pengetahuan (science)
- Kedudukan keduanya sejajar, sehingga implikasinya dalam kehidupan, bisa dan syah saja jika bertentangan dan jika hal ini terjadi, maka suatu saat iman bisa dikorbankan demi pengetahuan/ratio manusia
- Kemungkinan akan terjadi dualisme dalam kehidupan, dimana kehidupan iman (beragama), tidak sesuai dengan kehidupan diluar gedung gereja.
- Kemungkinan terjadi penyimpangan firman Tuhan karena ratio direndahkan
- Iman dan ratio merupakan sekutu, ada hal-hal yang dapat dijelasakan secara iman maupun terbukti secara ratio
Tetapi hal-hal tersebut belum menjelaskan manakah yang harus didahulukan iman atau ratio, apakah iman menjadi dasar dari pengertian (ratio) atau sebaliknya, ratio adalah dasar dari iman.
Santo Agustinus (354-430), membaca dari kitab Yesaya 7: 9, yang jika diterjemahkan secara langsung demikian: Jikalau engkau tidak percaya, maka pasti engkau tidak akan mengerti, (nissi creditelitas non-inteligetis) dan setelah melalui pergumulan panjang dan sempat menjadi penganut filsafat “Manicheaisme” selama hampir 10 tahun (filsafat yang mengakui bahwa adanya kuasa yang jahat yang selalu memerangi kuasa baik dan tidak mengakui bahwa Allah maha kuasa dan berkuasa atas segala sesuatu/omnipoten), pada akhirnya Agustinus menyadari kekeliruannya dan mau menundukkan rationya dibawah imannya, karena menurut dia pikiran/logika yang dalam dari manusia tidak perlu dihilangkan karena manusia itu beriman/beragama, karena jika agama mengakibatkan orang menjadi bodoh dan semakin bodoh karena menjalankan kewajiban agamanya, maka agama itu pasti tidak beres.
Dan akhirnya Agustinus berpendapat bahwa iman tidak boleh membunuh ratio, justru iman, harus mempertajam ratio dan memurnikan ratio, sehingga lahirlah prinsip yang dirumuskan sebagai berikut: “Aku percaya, maka aku mengerti; dan agar aku bisa mengerti, aku harus menetapkan bahwa aku percaya (crede ut inteligas, credo ut intelligam). Prinsip seperti inilah yang terdapat dalam kekristenan, kita terlebih mengedepankan iman terlebih dahulu, untuk kemudian dengan pemurnian ratio, maka kita berusaha mengerti apa yang kita percayai (iman tersebut)
Iman dan ratio merupakan sekutu yang tidak dapat dipisahkan, walaupun ada hal-hal dari iman atau ratio yang sepertinya terpisah, misalnya doktrin tentang trinitas, sulit sekali untuk membuktikan keberadaan trinitas (hanya dengan iman berdasarkan pernyataan kitab suci, kita menerimanya) tetapi kita dapat memberikan jawaban terhadap semua keberatan dari keberadaan trinitas ini, misalnya jika ada yang mengatakan bahwa Allahnya orang kristen 3, maka kita memberikan jawaban bahwa, kita tidak menyembah 3 Allah, tapi 1 Allah yang mempunyai 3 pribadi dan jika ada yang mengatakan bahwa trinitas adalah suatu kontradiksi (tidak mungkin 1 = 3), maka jawaban kita ialah Allah hanya mempunyai 1 natur (sifat dasar) bukan 3, tetapi Allah mempunyai 3 pribadi bukan 1 dan hal ini bukan kontradiksi, manusia bahkan mempunyai 2 sifat dasar ( jiwa dan tubuh, yang terlihat dan yang tidak terlihat) tapi 1 pribadi. Atas dasar ini pula tidak sulit bagi kita untuk menerima sifat dasar dari Yesus Kristus yang adalah Allah 100 % dan manusia 100%, sehingga hanya Yesus lah yang dapat menyelamatkan manusia dari hukuman dosa.
Dari ulasan terlihat betapa pentingnya apologetika, karena dengan apologetika kita dapat mempraktekan ratio kita yang sudah dimurnikan, sehingga semakin peka terhadap pengajaran-pengajaran yang menyimpang, bukan saja di lingkungan gereja tetapi dalam kehidupan sehari-hari, ratio yang sudah dimurnikan dan berdasarkan iman yang benar, maka ratio akan semakin tajam dan luas fungsi dan keberadaannya, tetapi ratio ini tetap harus dengan lemah-lembut dan hormat dan dengan hati nurani yang murni……(1 Pet 3 : 15b, 16a), Amin.
=====ah=====
Bahan:
Peter Kreeft, “Handbook of Christian Apologetic”
Stephen Tong, “Hati yang Terbakar, vol 2”
| Print article | This entry was posted by YPAI on 1 September 2010 at 2:10 pm, and is filed under Recommended Article. Follow any responses to this post through RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed. |
